Merdeka Finansial di Hari Tua, Berapa Tabungan yang Harus Dimiliki?

Merdeka Finansial di Hari Tua, Berapa Tabungan yang Harus Dimiliki?

Jakarta: Ada anggapan, salah satu indikator sukses yakni memiliki persiapan tabungan hari tua. Masalahnya, berapa uang yang harus dipersiapkan? Apakah tabungan yang dimiliki akan cukup?
 
Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan memiliki persiapan keuangan di masa tua merupakan indikator merdeka secara finansial.
 
Secara prinsip, merdeka finansial adalah ketika menua dan pensiun, pembiayaan hidup tidak lagi bersumber kepada penghasilan gaji (labor income), tapi lebih kepada non-labor income melalui pencairan aset yang diakumulasikan semasa kerja.  
Untuk mencapai kemerdekaan finansial tersebut, Budi menyarankan individu maupun kelompok terlebih dahulu harus mengubah paradigma perilaku terutama terkait gaya hidup seperti belanja, sumber penghasilan, dan utang.
 
“Perubahan paradigma ini sangat penting agar upaya merancang strategi investasi beragam jenis aset dapat berjalan lancar demi menepis risiko Middle Income Trap 2030,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu, 2 September 2020.
 
Lebih lanjut, ia juga telah menghitung taksiran nilai aset dan dana yang harus dialokasikan seorang generasi milenial yang setidaknya masih bekerja selama 25 tahun ke depan dan memiliki kualitas hidup yang baik selama 20 tahun ke depan. Adapun taksiran tersebut sebesar Rp6,4 miliar.
 
Perhitungan itu diperoleh dengan mengalikan visi target PDB per kapita yakni Rp320 juta per tahun dengan masa tuai (harvest) yakni ekspektasi hidup hingga wafat, asumsi 20 tahun.
 
Bagaimana memperoleh dana Rp6,4 miliar?
 
Jangan kaget dan takut, menurut Budi, dana tersebut bisa diperoleh asalkan disiplin dan memahami rancangan strategi investasi.
 
“Kita bisa mempelajari prinsip investasi sepanjang hayat dari Nabi Yusuf kepada raja bahwa kita harus selalu berusaha untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing serta memiliki cadangan untuk kehidupan di masa depan,” ungkap Budi.
 
Ia pun menyebutkan ada beberapa tahapan dalam berinvestasi yaitu fase growth, protection, dan distribution.
 
1. Fase Growth
Aset yang paling tepat dimiliki untuk fase growth meliputi talenta, properti, saham, dan emas dalam satu dekade ke depan.
 
2. Fase Protection
Aset terbaik untuk fase protection adalah Surat Berharga Negara (SBN) karena memiliki credit risk terendah.
 
3. Fase Distribution
Fase distribution merupakan proses peluruhan atau pencairan dan transfer aset, yakni aset dicairkan secara berkala menjadi non labor income.
 
Penerapan fase-fase tersebut diyakini dapat mencapai jumlah uang yang dibutuhkan untuk hari tua.
 
Selain itu, Budi juga menyampaikan dalam mengatur alokasi dana investasi juga dapat dirancang dengan persentase tertentu terhadap pendapatan.
 
Mengacu David Bach penulis buku Automatic Millionaire, seseorang bisa mulai dengan lima persen pendapatan pada lima tahun pertama mulai bekerja.
 
Seiring dengan peningkatan kecakapan berinvestasi, alokasi investasi pada growing aset seperti talenta, properti dan saham bisa ditingkatkan hingga 20 persen. Lalu, ketika mendekati usia pensiun dan sejalan dengan rumus alokasi growing asset (100 – umur), alokasi investasi dapat diturunkan hingga kembali lima persen pendapatan. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
dan follow Channel WhatsApp Beritafintech.com

TRENDING  Fintech Dominasi Penjualan Reksadana

(DEV)

Check Also

Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

Salah satu kebiasaan finansial yang penting adalah memiliki anggaran bulanan yang jelas dan terencana. Dengan memiliki anggaran, kita dapat mengontrol pengeluaran dan memastikan bahwa kita tidak menghabiskan uang lebih dari yang seharusnya. Selain itu, menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan menabung, kita dapat memiliki cadangan dana darurat untuk menghadapi situasi tak terduga. Selain itu, membiasakan diri untuk berinvestasi juga merupakan langkah penting dalam menjaga keuangan agar lebih aman. Dengan berinvestasi, kita dapat meningkatkan nilai aset dan menciptakan sumber pendapatan pasif. Selain itu, menjaga kesehatan finansial juga termasuk dalam kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Hal ini meliputi pembayaran tagihan tepat waktu, menghindari utang yang tidak perlu, serta mempertimbangkan risiko finansial sebelum membuat keputusan besar. Terakhir, selalu melakukan evaluasi terhadap kondisi finansial secara berkala juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan melakukan evaluasi secara rutin, kita dapat mengetahui apakah ada perubahan dalam kondisi finansial dan membuat penyesuaian jika diperlukan. Dengan menerapkan kelima kebiasaan ini secara konsisten, diharapkan kita dapat menjaga stabilitas dan keselamatan keuangan di masa depan

%site% | NEWS