Penurunan Saham Bank Masih Terjadi, Asing Banyak Jual

Penurunan Saham Bank Masih Terjadi, Asing Banyak Jual

ILUSTRASI. Aksi investor asing yang mulai menjual saham perbankan dalam negeri negeri jelang akhir tahun 2024

Beritafintech.com – JAKARTA. Tren penurunan saham bank, terutama bank-bank besar, masih terjadi. Padahal, kinerja bank tersebut juga sudah semakin membaik menjelang akhir tahun ini.

Adapun, penurunan tersebut sedikit banyak dipengaruhi oleh langkah investor asing yang melakukan penjualan saham bank tersebut. Setidaknya, terlihat dalam sebulan terakhir.

Ambil contoh, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat net foreign sell selama sebulan terakhir mencapai Rp 7,27 triliun. Ini menjadi yang tertinggi di antara bank besar lainnya. 

Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mencatat net foreign sell sebesar Rp 1,23 triliun selama sebulan terakhir. Di periode yang sama, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat net foreign sell sebesar Rp 595 miliar. 

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Emiten yang Diprediksi Bakal Ekspansif di 2025

Tak terkecuali, satu-satunya bank besar yang bukan pelat merah, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang juga memiliki net foreign sell sebesar Rp 1,29 triliun.

Berdasarkan informasi yang beredar di pasar, langkah investor asing yang keluar dari saham-saham perbankan salah satunya dikarenakan rencana pemerintah untuk membentuk Danantara. Di mana, bank-bank besar pelat merah akan berpindah dari kementerian BUMN ke lembaga baru tersebut.

TRENDING  Direksi KB Bank Kembali Borong Saham BBKP

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta bilang memang saat ini ada penantian dari investor terkait realisasi Danantara tersebut. Oleh karenanya ada sikap kehati-hatian terutama dari investor asing.

“Mereka lebih bersikap prudent,” ujar Nafan, Minggu (15/12).

Meski demikian, Nafan mengungkapkan bahwa Danantara ini sejatinya dipercaya justru memperkuat bisnis perbankan. Sebab, lembaga tersebut juga punya kepentingan untuk memperbesar portofolio yang dimiliki.

Di sisi lain, ia melihat penurunan saham perbankan saat ini sifatnya akan lebih terbatas. Sebab, beberapa pekan depan, bank sentral baik itu Bank Indonesia maupun The Fed ada kemungkinan menurunkan suku bunga acuannya.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengungkapkan bahwa sentimen Danantara hanya berdampak sedikit terhadap keluarnya investor asing. Menurutnya, ada alasan lain yang membuat investor asing keluar.

“Jadi lebih kepada sentimen dan volatility dari global dan dari dalam negeri aja sih sebetulnya, terutama pas Donald Trump menang,” ujar Nico.

Baca Juga: Menteri Investasi Sebut Tak Ada Hambatan Peluncuran BP Investasi Danantara

Sama halnya dengan Nafan, Nico melihat penurunan saham bank sudah lebih terbatas. Sebab, menurutnya, di akhir-akhir tahun seperti ini, investor selalu melakukan rebalancing.

Proyeksinya, saham-saham perbankan akan kembali mengalami kenaikan pada pekan depan. Terlebih, jika Bank Indonesia akan menurunkan suku bunga acuannya pada pekan depan.

“Jadi bank-bank besar seperti KBMI 4 ini sebenarnya ada peluang naik untuk jangka panjang,” ujarnya.

Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe bilang sebenernya tidak perlu dikhawatirkan dengan langkah investor asing ketika terlihat luar. Sebab, ia melihat itu hanya langkah investor dalam melakukan trading.

TRENDING  Beri Ketenangan Finansial, Mitra Pengemudi Bisa Terima Pinjaman Sesuai Pendapatan Harian

Di sisi lain, ia juga menilai adanya lembaga Danantara juga tak akan berpengaruh pada prospek bisnis bank BUMN. Kiswoyo menilai bank-bank ini juga masih akan mencatat kinerja bagus.

“Kan kalau Danantara pun juga masih butuh dividen,” ujarnya.

Sementara itu, Kiswoyo menilai industri perbankan di tanah air masih menguntungkan. Alhasil, berinvestasi di saham-saham perbankan bisa menjadi pilihan.

“Kan banyak investor asing yang juga buka bank di Indonesia,” tandasnya.

Selanjutnya: Kemensos Salurkan Bansos Anak Yatim Piatu dan Kurang Mampu Lewat PosInd

Menarik Dibaca: Daerah Ini Alami Hujan Petir, Simak Prakiraan Cuaca Besok (16/12) di Jawa Barat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • AFPI-BPRS Asbisindo Akselerasi Pendanaan Fintech ke Daerah

    AFPI-BPRS Asbisindo telah meluncurkan program akselerasi pendanaan fintech ke daerah dengan tujuan untuk mendukung perkembangan industri fintech di seluruh Indonesia. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada para pelaku usaha fintech di daerah untuk mendapatkan akses pendanaan yang lebih mudah dan cepat. Dengan adanya program ini, diharapkan dapat meningkatkan inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah terpencil. Selain itu, program ini juga akan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para pelaku usaha fintech agar mereka dapat berkembang secara berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. Dengan demikian, AFPI-BPRS Asbisindo berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan industri fintech di Indonesia demi kemajuan ekonomi bangsa

  • Kasus Pinjol Ilegal Mendominasi Pengaduan Di OJK, Catat Pinjol Legal OJK Maret 2025

    Kasus pinjol ilegal mendominasi pengaduan di OJK, dengan jumlah keluhan yang terus meningkat setiap bulannya. Data terbaru dari OJK menunjukkan bahwa sebagian besar pengaduan yang diterima berkaitan dengan praktik pinjaman online ilegal yang merugikan masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memastikan bahwa mereka hanya menggunakan layanan pinjol legal yang telah terdaftar dan diawasi oleh OJK.

    Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan memeriksa daftar pinjol legal yang telah disahkan oleh OJK. Dengan demikian, konsumen dapat memastikan bahwa mereka tidak menjadi korban praktik ilegal dari pinjol ilegal. Selain itu, penting juga untuk selalu membaca syarat dan ketentuan sebelum mengajukan pinjaman online agar tidak terjerat dalam perangkap utang yang sulit untuk diselesaikan.

    Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menggunakan layanan pinjol legal, diharapkan kasus-kasus penipuan dan praktik ilegal dapat diminimalisir. Sebagai konsumen cerdas, kita harus selalu waspada dan berhati-hati dalam menggunakan layanan keuangan agar tidak menjadi korban dari praktik-praktik penipuan yang merugikan. Semoga dengan adanya regulasi lebih ketat dari pihak berwenang, kasus-kasus seperti ini dapat diminimalisir dan memberikan perlindungan lebih baik bagi masyarakat pengguna jasa keuangan online

  • OJK Rancang Aturan Fintech Lending Perlu Adakan Rapat Umum Lender, Ini Kata AFPI

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang merancang aturan baru untuk mengatur industri fintech lending di Indonesia. Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah mengadakan rapat umum lender untuk membahas regulasi yang akan diterapkan. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyambut baik langkah ini dan siap untuk berkolaborasi dengan OJK dalam menyusun regulasi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Menurut AFPI, rapat umum lender merupakan langkah penting untuk memastikan transparansi dan keberlanjutan bisnis fintech lending di Tanah Air

  • Banyak Pengajuan KPR Ditolak, Bukti Edukasi Finansial Masih Kurang

    Banyaknya pengajuan KPR yang ditolak menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memiliki pemahaman yang cukup dalam hal finansial. Hal ini menjadi bukti bahwa edukasi finansial masih kurang di masyarakat. Penting bagi setiap individu untuk memahami betul mengenai manajemen keuangan agar dapat mengelola keuangan dengan baik dan mendapatkan persetujuan dalam pengajuan KPR. Dengan meningkatkan pemahaman finansial, diharapkan jumlah pengajuan KPR yang disetujui juga akan meningkat sehingga masyarakat dapat memiliki rumah impian mereka

  • Menjaga Momentum Inovasi Industri Fintech

    Jakarta: Indonesia Fintech Society (IFSOC) dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, menyambut positif geliat perkembangan fintech seiring pemulihan ekonomi nasional.  Melalui Fintech Policy Forum 2023, IFSOC dan CSIS Indonesia terus mendorong pengembangan dan penguatan sektor fintech, serta perluasan peranan dan pemanfaatan fintech di sektor keuangan Indonesia.  Fintech Policy Forum yang merupakan forum…

  • Likuiditas Ketat Tetap Menghantui Bank KBMI 4

    Meskipun Bank KBMI 4 telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan likuiditasnya, namun ketatnya likuiditas masih tetap menghantui bank ini. Hal ini terlihat dari rendahnya tingkat pinjaman yang disalurkan oleh bank kepada nasabah, serta keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dana jangka pendek. Para investor pun mulai khawatir dengan kondisi likuiditas yang belum stabil ini, sehingga perlu adanya langkah-langkah strategis yang lebih agresif untuk mengatasi masalah ini