BPKH Mencari Pemilik Baru Bank Muamalat Sembari Perbaiki Kinerja

BPKH Mencari Pemilik Baru Bank Muamalat Sembari Perbaiki Kinerja

ILUSTRASI. Upaya Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk mencari investor baru untuk PT Bank Muamalat Indonesia kian intensif.

Beritafintech.com – JAKARTA. Upaya pencarian investor baru untuk PT Bank Muamalat Indonesia kian intensif dilakukan. Terlebih, setelah bank syariah tertua di tanah air ini gagal digabungkan dengan unit usaha syariah milik PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) tahun lalu.

Seperti diketahui, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai pemegang saham pengendali memang berencana melepas Bank Muamalat dalam beberapa tahun terakhir. Mengingat, lembaga ini memilih untuk fokus pada tugas pokoknya yaitu mengelola keuangan haji.

Kepala BPKH Fadlul Imansyah mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang dalam proses penjajakan dengan beberapa calon investor Bank Muamalat, baik itu dari dalam negeri maupun luar negeri. Hanya saja, BPKH belum mau blak-blakan siapa saja investor yang berminat.

Baca Juga: BPKH dan Bank Muamalat Perkuat Sinergi Bisnis Tingkatkan Layanan Haji

Ia hanya menegaskan bahwa pihaknya sangat berhati-hati dalam memilih calon investor. Setidaknya, investor baru tersebut memenuhi berbagai syarat yang bisa memperkuat Bank Muamalat ke depan.

“Kami memastikan calon investor memiliki kapasitas pendanaan yang kuat dan rekam jejak di sektor perbankan,” ujar Fadlul kepada KONTAN, Rabu (7/5).

Terkait batas waktu, Fadlul bilang pihaknya juga sedang merampungkan proses internal agar keputusan yang diambil sesuai dengan regulasi. Terlebih, keputusan ini bisa menjadi yang terbaik untuk dana haji.

Sebelumnya, Fadlul sempat mengungkapkan sembari mencari investor baru, pihaknya bakal terus melakukan perbaikan di dalam bisnis Bank Muamalat. Di mana, bank ini dibayangi pembengkakan kredit bermasalah.

TRENDING  Bosan Jadi Karyawan Terus? Yuk Belajar Jadi Pengusaha

Secara rinci, NPF gross Bank Muamalat secara tahunan naik dari 2,22% menjadi 3,99% pada kuartal I-2025. Sementara, untuk rasio NPF nett Bank Muamalat juga naik secara tahunan dari 1,17% menjadi 3,37%.

Selain itu, rasio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) aset keuangan terhadap aset produktif milik Bank Muamalat juga ikut tergerus. pada kuartal I-2025, tingkat CKPN di level 0,65%, setahun sebelumnya masih di sekitar 1,06%.

Baca Juga: Pembiayaan Emas Bank Muamalat Melesat 520,31% Per Desember 2024

Sementara itu, laba bersih Bank Muamalat pada kuartal I-2025 turun menjadi Rp 1,67 miliar. Di periode yang sama tahun sebelumnya, laba bersih Bank Muamalat tercatat Rp 2,78 miliar.

“Jangan-jangan yang sekarang sebenarnya sudah sesuai PSAK, jadinya sekarang seolah-olah turun,” ujar Fadlul, akhir tahun lalu.

Direktur Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat berpandangan perbaikan kinerja di tubuh Bank Muamalat menjadi penting dilakukan. Ini berkaca dari hasil due diligence dengan BTN kala itu yang membuat keduanya gagal bergabung.

Menurutnya, jika Bank Mumalat bisa memperbaiki kinerjanya, bukan tidak mungkin investor akan tertarik untuk mengambil bank syariah tersebut. Alhasil, ini juga bisa membuat perbankan syariah di tanah air bisa semakin besar.

“Muamalat kan sampai sekarang belum mendapatkan jodoh, semoga perbaikan yang sekarang dilakukan berhasil dan nantinya mungkin juga bisa bergabung dengan beberapa unit usaha syariah untuk menjadi bank syariah besar yang setara dengan BSI,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Check Also

Cara Menentukan Jenis Reksadana yang Sesuai Kebutuhan

Cara Menentukan Jenis Reksadana yang Sesuai Kebutuhan di Aplikasi Reksadana

Untuk menentukan jenis reksadana yang sesuai dengan kebutuhan Anda di Aplikasi Reksadana, pertama-tama Anda perlu memahami tujuan investasi Anda. Apakah Anda ingin berinvestasi jangka pendek untuk keperluan mendesak atau jangka panjang untuk persiapan masa depan? Selain itu, tentukan juga tingkat risiko yang siap Anda tanggung. Apakah Anda lebih nyaman dengan risiko rendah, sedang, atau tinggi? Setelah mengetahui tujuan investasi dan tingkat risiko yang sesuai, selanjutnya pilihlah jenis reksadana yang cocok. Jika Anda menginginkan keuntungan stabil dan risiko rendah, maka reksadana pasar uang atau pendapatan tetap bisa menjadi pilihan terbaik. Namun jika Anda bersedia mengambil risiko lebih besar demi potensi keuntungan yang lebih tinggi, maka reksadana saham atau campuran mungkin lebih cocok untuk Anda. Ingatlah bahwa setiap jenis reksadana memiliki karakteristik dan potensi return yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk melakukan riset dan konsultasi dengan ahli finansial sebelum memutuskan jenis reksadana mana yang akan dibeli. Dengan cara ini, Anda dapat memastikan bahwa investasi yang dilakukan sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan Anda

%site% | NEWS