Bonus dan Tantiem Manajemen Bank Milik Danantara Turun Drastis

Bonus dan Tantiem Manajemen Bank Milik Danantara Turun Drastis

ILUSTRASI. Kinerja Bank Mandiri: (Kiri – Kanan) Direktur Risk Management Bank Mandiri Danis Subyantoro, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Ari Rizaldi, Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Totok Priyambodo, dan Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini pada Paparan Publik Laporan Keuangan Triwulan III 2025 Bank Mandiri di Jakarta, Senin (27/10/2025). Bank Mandiri berhasil mencatatkan peningkatan kredit 11 persen year on year (yoy) menjadi Rp1.764,32 triliun pada kuartal II 2025, tumbuh melebihi rata-rata industri di level 7,07 persen yoy. Hal ini didukung oleh likuiditas yang stabil dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) naik 13 persen yoy lebih tinggi dari rata-rata industri 11,2 persen yoy. KONTAN/Baihaki/27/10/2025

Beritafintech.com – JAKARTA. Para bankir di pucuk pimpinan bank-bank milik Danantara tampaknya tak lagi bisa  menikmati bonus ataupun tantiem yang jumbo. Pasalnya, ada penurunan drastis yang terjadi untuk besaran bonus maupun tantiem yang didapat pada tahun ini. Ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo yang meminta tantiem disesuaikan dengan kinerja perusahaan.

Seperti diketahui, mayoritas kinerja bank-bank milik Danantara tercatat mengalami penurunan di September 2025. Di mana, mayoritas laba bank-bank pelat merah ini bisa mencapai lebih dari 5%.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menjadi salah satu yang tampak paling kentara dalam hal tantiem ini. Di mana, per September 2025, total bonus dan tantiem yang disiapkan mencapai Rp 50,1 miliar. Menariknya, besaran tersebut hanya diberikan untuk level SEVP, EVP dan SVP, sementara tidak ada untuk level direksi maupun komisaris.

TRENDING  Bank ICBC Indonesia Buka Cabang Baru di Surabaya

Baca Juga: Dana Rp 200 Triliun Masuk Bank BUMN, Dorongan Kredit atau Risiko Baru?

Mari bandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Total bonus dan tantiem yang disiapkan senilai Rp 606,69 miliar. Di periode tersebut, jajaran komisaris dan direksi tetap mendapatkan masing-masing senilai Rp 172,3 miliar dan Rp 403,9 miliar.

Penurunan bonus dan tantiem juga terjadi pada bank lainnya, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang pada September 2025 hanya menyiapkan bonus dan tantiem senilai Rp 300,5 miliar. Angka tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan periode September 2024 yang senilai Rp 1,64 triliun.

Bahkan, tantiem dari para direksi dan komisaris Bank Mandiri juga tak sebesar sebelumnya. Untuk seluruh direksi, total tantiem yang disiapkan hanya Rp 6 miliar dan untuk seluruh komisaris mencapai Rp 2,5 miliar.

Terakhir, ada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang juga mengalami penurunan tantiem. Per September 2025, bank yang dekat dengan wong cilik ini hanya menyiapkan tantiem untuk manajemen kunci senilai Rp 274,95 miliar atau turun 75,07% secara tahunan (YoY).

Advisor Banking & Finance Development Center Moch Amin Nurdin melihat apa yang terjadi itu memang menjalankan himbauan dari pemegang saham. Di mana, pemegang saham tidak lagi memberikan tantiem untuk komisaris. Bahkan, direksi pun hanya dapat jika kondisi laporan keuangan benar-benar bagus.

Baca Juga: OJK: Kinerja Bank BUMN Stabil hingga Semester I 2025, Sesuai Standar Internasional

“Saya melihatnya ini bukan karena efisiensi dan kinerja,” ujar Amin.

Bahkan, Amin mengungkapkan tantiem yang kecil ini akan menjadi pola baru untuk ke depannya. Meskipun, kinerja bank-bank milik Danantara ini bisa saja kembali ke tren pertumbuhan pada tahun depan.

TRENDING  Proyeksi Laba Bank KBMI 4 pada Kuartal I 2024, Akankah Kembali Cetak Rekor?

Lebih lanjut, ia bilang penurunan tersebut berpotensi memiliki dampak pada kinerja manajemen ke depannya. Menurutnya, bukan tidak mungkin kinerja para bankir ini tidak akan seperti sebelumnya ketika mendapatkan tantiem besar.

“Saya rasa pasti akan ada imbasnya terhadap kinerja,” tambah Amin.

Sependapat, Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan melihat penurunan tantiem ini selaras dengan instruksi dari pemerintah terkait pengurangan tantiem. Pada akhirnya, bank-bank pelat merah ini juga perlu mengikuti.

Hanya saja, ia optimistis penurunan ini tidak begitu berdampak pada kinerja manajemen. Alasannya, manajemen punya kontrak yang harus dipenuhi ketika mereka menjabat pertama kali di bank-bank Danantara ini.

“Menurut saya masih tetap prestis ya karena bank Danantara kita termasuk besar,” tandasnya.

Baca Juga: Tantiem Komisaris Bank BUMN Dipangkas, Ini Efeknya ke Kinerja Bank Himbara

Selanjutnya: Bank Mandiri Siap Salurkan BLTS Kesra 2025 Rp3,22 Triliun ke Seluruh Indonesia

Menarik Dibaca: Bisa Serang Siapa Saja, Begini Cara Mencegah RSV

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Dorong Literasi Keuangan, Mastercard Gandeng Fintech

    Mastercard telah mengumumkan kemitraan strategis dengan perusahaan fintech terkemuka untuk meluncurkan program Dorong Literasi Keuangan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya literasi keuangan dan bagaimana cara mengelola keuangan secara bijaksana. Melalui program ini, diharapkan masyarakat dapat lebih cerdas dalam mengelola uang dan merencanakan masa depan keuangan mereka. Dengan adanya dukungan dari Mastercard, program Dorong Literasi Keuangan diharapkan dapat mencapai lebih banyak orang dan memberikan dampak positif yang besar bagi kemajuan finansial masyarakat Indonesia

  • Terus Terkoreksi, Saham BCA Kian Mendekati Harga Stock Split

    Para investor saham BCA sedang dikejutkan dengan kenaikan harga saham yang semakin mendekati harga stock split. Hal ini membuat para investor semakin antusias dan bersemangat untuk terus mengikuti perkembangan saham BCA. Dengan adanya peningkatan harga saham yang signifikan, para investor pun semakin yakin bahwa investasi mereka akan memberikan hasil yang menguntungkan di masa depan. Selain itu, kian mendekatnya harga stock split juga menjadi pembahasan hangat di kalangan para pelaku pasar modal, menambah tingginya minat dan perhatian terhadap saham BCA

  • Mengenal Kelebihan dan Kekurangan Fintech Yuk!

    Jakarta: Masa pandemi mendorong peningkatan akselerasi digital di Indonesia, di antaranya menabung di bank digital, memberi bantuan sosial secara online, investasi dengan akun digital, belanja di marketplace, transaksi dengan dompet digital, dan lain-lain.  Digitalasasi pun telah merevolusi seluruh sektor kehidupan manusia yang lebih maju dan canggih, seperti memudahkan transaksi keuangan, belanja semakin gampang, berinvestasi dengan

  • RUPS Bank BUMN Menyisakan Kerikil, Pengamat Beri Catatan

    RUPS Bank BUMN yang baru saja berlangsung menuai beragam tanggapan dari para pengamat ekonomi. Meskipun diakui bahwa bank tersebut telah berhasil menyisakan kerikil dalam menghadapi tantangan ekonomi global, namun beberapa pengamat memberikan catatan terkait strategi yang harus ditingkatkan. Menurut mereka, Bank BUMN perlu lebih proaktif dalam menghadapi perubahan pasar dan memperkuat kolaborasi dengan pihak terkait guna meningkatkan daya saing. Meski demikian, keberhasilan Bank BUMN dalam menyisakan kerikil tetap menjadi sorotan utama dalam RUPS kali ini

  • OJK Terbitkan POJK Baru Tentang SLIK, Ini Respons Sejumlah Fintech Lending

    ILUSTRASI. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 18/POJK.03/2017 Tentang Pelaporan dan Permintaan Informasi Debitur Melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (POJK SLIK). Beritafintech.com – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11…

  • Menkes Izinkan Praktik Dokter Umum bagi PPDS untuk Ringankan Beban Finansial

    Menkes Izinkan Praktik Dokter Umum bagi PPDS untuk Ringankan Beban Finansial

    Kementerian Kesehatan (Menkes) telah mengeluarkan kebijakan yang memperbolehkan praktik dokter umum bagi para calon spesialis (PPDS) guna membantu ringankan beban finansial mereka. Keputusan ini disambut baik oleh para PPDS yang merasa lega dengan adanya kemudahan akses layanan kesehatan.

    Dengan izin praktik dokter umum, para PPDS dapat memperoleh penghasilan tambahan selain dari gaji mereka sebagai calon spesialis. Hal ini diharapkan dapat membantu mengurangi beban finansial yang biasanya dialami oleh para PPDS selama menjalani pendidikan spesialis.

    Para PPDS pun berharap agar kebijakan ini dapat terus diperluas dan diterapkan di seluruh rumah sakit di Indonesia. Mereka percaya bahwa dengan adanya kemudahan akses layanan kesehatan, akan semakin banyak masyarakat yang mendapatkan pelayanan kesehatan berkualitas tanpa harus khawatir dengan biaya yang mahal.

    Dengan langkah progresif ini, diharapkan sistem kesehatan Indonesia dapat semakin berkembang dan memberikan manfaat bagi semua pihak, termasuk para calon spesialis yang sedang menjalani pendidikan mereka