Pesan OJK, Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Meminjam di Fintech Lending

AFPI Sebut Imbal Hasil Menempatkan Dana di Fintech Lending Berkisar 14% hingga 18%

Beritafintech.com – JAKARTA. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyampaikan imbal hasil atau yield yang didapatkan lender dalam menempatkan dana di platform fintech peer to peer (P2P) lending berkisar di angka 14% hingga 18% per tahun.

“Setahu saya saat ini imbal hasil sekitar 14% hingga 18% per tahun, tetapi rata-rata di angka 14%,” ungkap Ketua Umum AFPI Entjik Djafar kepada Kontan, Kamis (12/3).

Lebih rinci, Entjik menerangkan imbal hasil untuk penempatan dana di sektor multiguna berkisar di angka 14% hingga 16%, sedangkan produktif dan syariah sebesar 15% hingga 18%.

Baca Juga: Usai Dilantik, Ketua DK OJK Friderica Komitmen untuk Jaga Stabilitas Sistem Keuangan

Di tengah risiko gagal bayar yang tinggi, Entjik menilai menaruh dana di platform fintech lending masih menarik. Meskipun demikian, AFPI mengimbau agar lender dalam menginvestasikan dana perlu melakukan secara bijak dan harus paham bahwa transaksi di fintech lending berisiko tinggi.

“Selain itu, lender juga harus paham dan yakin tentang risiko borrower yang dibiayai,” kata Entjik.

Sementara itu, Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda juga menilai menempatkan dana di fintech lending masih sangat menarik bagi lender yang merasa risiko tinggi tidak masalah.

“Bunga pengembalian yang mencapai 18% per tahun menjadi daya tawar menarik, atau lebih tinggi dibandingkan di deposito, Surat Berharga Negara (SBN), bahkan pasar modal,” ujarnya.

Terlebih, Nailul menyebut bagi perbankan yang ingin mendiversifikasi portofolio investasinya di fintech lending juga bisa menjadi pertimbangan.

TRENDING  Ingat! Anak Muda Indonesia Juga Harus Mapan Finansial

“Perbankan lebih dapat melakukan manajemen risiko dari borrower pinjaman daring dibandingkan dengan lender ritel. Dengan bunga sebesar itu, ya, sangat menarik bagi perbankan untuk masuk. Paling biaya risiko mereka di angka 2% karena mereka tidak mengeluarkan biaya untuk penyaluran,” tuturnya.

Bagi investor ritel, Nailul menganggap mereka juga harus melihat juga biaya risikonya, mulai dari karakteristik calon borrower, hingga kondisi ekonomi.

“Jangan sampai masyarakat tidak tahu terkait dengan risikonya. Akhirnya banyak yang terjebak gagal bayar dan sebagainya karena hanya keuntungan yang besar. Oleh karena itu, perlu melakukan riset dan belajar berinvestasi dahulu di berbagai platform,” kata Nailul. 

Similar Posts

  • Sehat Finansial Jelang Akhir Tahun ala Astra Life, Cek 5 Indikatornya

    ILUSTRASI. Astra Life sebagai perusahaan asuransi jiwa yang rutin mengedukasi masyarakat akan literasi finansial merangkum 5 indikator untuk meningkatkan kesehatan finansial. Beritafintech.com – Memasuki akhir tahun 2023 saatnya mengevaluasi hingga memperbaiki kondisi finansial dan bersiap untuk langkah berikutnya. Sepanjang tahun 2023, bagi yang sudah menghabiskan waktu dan dana untuk memenuhi kebutuhan personal untuk berolahraga, pergi

  • Fintech Lending Wajib Credit Scoring dengan Cara Ini Dalam Salurkan Pembiayaan

    Salah satu hal yang menjadi kunci dalam proses pengajuan pembiayaan melalui fintech lending adalah credit scoring. Dengan menggunakan metode ini, pemberi pinjaman dapat menilai risiko dan kemampuan pembayaran calon peminjam dengan lebih akurat. Namun, untuk memastikan bahwa credit scoring berjalan dengan baik, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan.

    Pertama, penting untuk mengumpulkan data secara lengkap dan akurat tentang calon peminjam. Data-data seperti riwayat kredit, pendapatan, dan informasi lainnya harus terdokumentasi dengan baik agar dapat memberikan gambaran yang jelas tentang profil keuangan calon peminjam.

    Selain itu, penting juga untuk menggunakan teknologi dan analisis data yang canggih dalam melakukan credit scoring. Dengan memanfaatkan teknologi seperti machine learning dan artificial intelligence, pemberi pinjaman dapat membuat prediksi yang lebih tepat tentang kemampuan pembayaran calon peminjam.

    Dengan menerapkan metode credit scoring secara efektif, fintech lending dapat menjadi solusi yang aman dan terpercaya bagi masyarakat dalam mendapatkan pembiayaan. Dengan demikian, proses pengajuan pinjaman akan menjadi lebih transparan dan efisien bagi semua pihak yang terlibat

  • BFI Finance (BFIN) Tutup Usaha Fintech P2P Lending

    BFI Finance (BFIN) telah resmi mengumumkan penutupan usaha fintech peer-to-peer (P2P) lending mereka. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk fokus pada bisnis inti mereka di sektor pembiayaan konvensional. Meskipun demikian, BFI Finance tetap berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada para nasabahnya dan memastikan kelancaran proses penutupan usaha fintech P2P lending ini. Selain itu, BFI Finance juga akan terus mengembangkan inovasi-inovasi baru dalam rangka meningkatkan kualitas layanan mereka di masa mendatang

  • Dukung Penguatan Industri Fintech Lending, OJK Lakukan Berbagai Langkah Kebijakan Ini

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan langkah-langkah kebijakan untuk mendukung dan memperkuat industri fintech lending di Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan akses permodalan bagi para pelaku usaha, terutama UMKM, yang seringkali kesulitan mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan konvensional.

    Salah satu langkah yang telah dilakukan oleh OJK adalah dengan memberikan izin operasional kepada sejumlah perusahaan fintech lending yang memenuhi persyaratan dan standar yang ditetapkan. Selain itu, OJK juga terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kinerja serta kepatuhan dari para pelaku industri fintech lending tersebut.

    Dengan adanya dukungan dan pengawasan yang ketat dari OJK, diharapkan dapat menciptakan lingkungan usaha yang sehat dan berkelanjutan bagi para pelaku industri fintech lending. Sehingga, masyarakat dapat lebih percaya dan nyaman dalam menggunakan layanan pinjaman online ini sebagai alternatif solusi keuangan mereka

  • Miliki Banyak Keunggulan, Pospay Ramaikan Persaingan Fintech

    Pospay merupakan salah satu platform fintech yang memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan pesaingnya. Dengan fitur-fitur inovatif dan kemudahan penggunaan, Pospay berhasil meramaikan persaingan di dunia fintech. Dengan layanan yang cepat, aman, dan terpercaya, Pospay menjadi pilihan utama bagi banyak pengguna untuk melakukan transaksi keuangan mereka. Tidak heran jika Pospay semakin diminati dan menjadi solusi terbaik dalam dunia digital saat ini

  • Fintech Lending, Harapan Baru bagi Usaha Kecil

    ILUSTRASI. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelarkunjungan ke sejumlah penerima manfaat fintech peer to peer lending, atau layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi, di wilayah Jakarta, pada Rabu (18/10/2023). Beritafintech.com – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelar kunjungan ke sejumlah penerima manfaat fintech peer to peer lending, atau layanan pendanaan bersama berbasis teknologi…