Rencana OJK Batasi Lender Individu Non Profesional di Fintech Tuai Pro dan Kontra

18 Penyelenggara Fintech Lending Punya TWP90 di Atas 5% per Januari 2026

ILUSTRASI. OJK merilis data 18 pinjol dengan TWP90 di atas 5% per Januari 2026 (KONTAN/Muradi)

Beritafintech.com – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terdapat 18 penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) yang memiliki tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 di atas 5% per Januari 2026.

“Didominasi penyelenggara yang bergerak pada penyaluran sektor produktif,” ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Kamis (5/3/2026).

Terhadap penyelenggara yang melampaui batas tersebut, Agusman menerangkan OJK telah melakukan langkah pengawasan sesuai ketentuan, antara lain pembinaan, permintaan rencana aksi perbaikan, dan pengenaan sanksi administratif. 

Baca Juga: Meningkat 5%, SMF Catatkan Laba Bersih Sebesar Rp 565 Miliar pada 2025

Dia bilang pendekatan yang sama berlaku bagi seluruh penyelenggara, termasuk yang berbasis syariah, dengan fokus pada perbaikan manajemen risiko, kualitas pendanaan, dan tata kelola.

Berdasarkan data OJK, angka TWP90 industri fintech lending per Januari 2026 mengalami peningkatan. Angka TWP90 per Januari 2026 tercatat sebesar 4,38%, atau meningkat dari posisi Desember 2025 yang sebesar 4,32% dan posisi Januari 2025 yang sebesar 2,52%.

Meski angkanya masih dalam kondisi terjaga, tetapi sudah mulai mendekati ambang batas aman ketentuan OJK, yakni sebesar 5%.

Mengenai hal itu, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyebut kenaikan TWP90 industri salah satunya disebabkan adanya kasus di sejumlah penyelenggara fintech lending, termasuk PT Dana Syariah Indonesia (DSI).

TRENDING  Fitch Turunkan Outlook Bank BUMN, Begini Efeknya ke Saham dan Fundamental Bank

Baca Juga: Bank Indonesia Jaga Stabilitas Harga di Tengah Gejolak Global

“Namun, sangat disayangkan adanya lonjakan kredit macet di platform yang disebabkan fraud. Jumlahnya cukup signifikan mempengaruhi performance industri akibatnya secara keseluruhan memperburuk TWP90,” kata Ketua Umum AFPI Entjik Djafar kepada Kontan, Rabu (4/3/2026).

Meskipun demikian, Entjik bilang sebenarnya upaya penyelenggara menekan kredit macet selama ini sudah berjalan dan efektif, tetapi karena platform yang terjerat dugaan fraud tersebut menjadi salah satu faktor utama meningkatnya TWP90.

Lebih lanjut, dia menyebut AFPI bersama para anggota masih terus berupaya untuk bisa menekan tingkat kredit macet. Salah satunya tetap memperkuat kontrol kredit yang lebih ketat dan prudent. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • OJK Belum Terima Rekomendasi KPPU Terkait Putusan Bunga Fintech Lending

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa mereka belum menerima rekomendasi resmi dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terkait putusan terbaru mengenai bunga yang dikenakan oleh perusahaan fintech lending. Meskipun demikian, OJK tetap aktif dalam memantau perkembangan industri fintech lending dan siap untuk memberikan arahan kepada pelaku usaha sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kerjasama antara lembaga pengawas keuangan dan persaingan usaha dalam menjaga stabilitas sektor keuangan dan melindungi konsumen dari praktik bisnis yang merugikan

  • World Bank Fintech

    Menurut laporan terbaru dari World Bank, industri fintech di Indonesia terus berkembang pesat dan menjadi salah satu yang paling inovatif di dunia. Dengan adopsi teknologi yang semakin luas, layanan keuangan digital semakin mudah diakses oleh masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil. Hal ini memberikan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan di Indonesia. Selain itu, regulasi yang mendukung juga menjadi faktor penting dalam mempercepat perkembangan industri fintech ini. Diharapkan dengan dukungan semua pihak, Indonesia dapat menjadi pusat fintech global yang berdampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat

  • Ini Respons Samir Soal Adanya Ketentuan Pembatasan Pinjaman Borrower Fintech Lending

    Menurut Samir, ketentuan pembatasan pinjaman bagi peminjam fintech lending merupakan langkah yang sangat penting untuk melindungi konsumen dari potensi penyalahgunaan dan over-indebtedness. “Dengan adanya batasan ini, diharapkan para peminjam akan lebih bijak dalam mengelola keuangan mereka dan tidak terjerumus dalam masalah hutang yang berkepanjangan,” ujar Samir dengan tegas.

    Selain itu, Samir juga menekankan pentingnya transparansi dan kejujuran dari pihak penyedia layanan fintech lending dalam memberikan informasi kepada para peminjam. “Konsumen harus diberikan akses yang jelas terkait dengan syarat dan ketentuan pinjaman, serta besaran bunga yang akan dikenakan. Hal ini akan membantu para peminjam untuk membuat keputusan finansial yang lebih cerdas,” tambahnya.

    Samir juga berharap bahwa regulasi terkait dengan fintech lending dapat terus dikembangkan dan diperkuat guna menjaga stabilitas pasar finansial serta melindungi kepentingan konsumen secara keseluruhan. “Kita semua harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan finansial yang sehat dan berkelanjutan bagi semua pihak,” tutup Samir dengan optimis

  • Raiz Invest bidik milenial yang belum pernah berinvestasi

    ILUSTRASI. Peluncuran Aplikasi Raiz Invest Indonesia Beritafintech.com – JAKARTA. PT Raiz Invest Indonesia alias Raiz Invest berkomitmen menghadirkan pengalaman investasi bagi kaum milenial yang belum pernah berinvestasi. Pihaknya berkata, milenial di Indonesia terutama first jobber mulai berpikir untuk mempersiapkan masa depannya, salah satunya dengan investasi. “First jobber biasanya sudah mulai punya keinginan untuk investasi. Untuk cakupannya…

  • Bank Mega Bukukan Laba Bersih Rp 3,36 Triliun Pada Tahun 2025

    Bank Mega berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 3,36 triliun pada tahun 2025, menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam kinerja keuangan perusahaan. Hal ini merupakan hasil dari strategi yang tepat dan komitmen yang kuat dalam memberikan layanan terbaik kepada nasabah. Dengan pencapaian ini, Bank Mega semakin kokoh sebagai salah satu bank terkemuka di Indonesia dan siap bersaing di pasar keuangan global

  • Peluang Usaha Online Paling Menjanjikan Tahun 2022

    beritafintech.com – Ternyata ada banyak peluang usaha online di tahun 2022 yang paling menjanjikan keuntungan dengan mudah tanpa perlu ribet. Untuk Anda yang mau membuka usaha atau bisnis tapi bingung mau buka apa, berarti Anda sudah berada di tempat yang tepat. Zaman semakin canggih, dan internet adalah salah satu buktinya kemajuan zaman itu. Internet memudahkan…