Bank Digital di Indonesia Makin Ramai, Intip Siapa yang Modalnya Paling Kuat?

Bank Digital di Indonesia Makin Ramai, Intip Siapa yang Modalnya Paling Kuat?

ILUSTRASI. Aktivitas nasabah pada kantor cabang AlloBank ci Jakarta, Jumat (10/3). Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa nilai transaksi bank digital sudah tembus Rp 52,245 triliun sepanjang 2022. Aangka tersebut meningkat 22,13% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pada tahun ini BI memproyeksikan nilai transaksi juga akan tumbuh di kisaran 22%. KONTAN/Carolus Agus Waluyo/10/03/2023.

Beritafintech.com – JAKARTA. Bank-bank digital terlihat makin agresif dalam menjalankan ekspansi bisnisnya. Terlihat dari pertumbuhan kinerjanya hingga transformasi layanan dan produk. Tentunya hal ini tidak terlepas dari posisi permodalan yang kuat.

Kontan merangkum 11 bank digital dengan kondisi permodalannya di kuartal I-2025. Dari 11 bank tersebut, rata-rata kondisi modal inti bank digital naik secara tahunan (year on year/yoy).

Namun rasio kecukupan modal untuk menanggung risiko kerugian bank atau Capital Adequacy Ratio (CAR) dari bank-bank digital tersebut rata-rata menurun secara tahunan (year on year/yoy). 

Dari 11 bank digital tersebut, PT Bank Allo Indonesia Tbk (Allo Bank) tercatat memiliki modal inti yang paling besar, yakni mencapai Rp 7,2 triliun, naik 6,98% yoy.

Secara kondisi rasio kecukupan modal, Allo Bank juga memiliki kecukupan modal yang sehat dan kuat, sebesar 93,38% per Maret 2025. Angka ini naik dari posisi periode tahun lalu yang sebesar 88,24% per Maret 2024.

Sementara itu secara rasio CAR, tertinggi ditempati oleh Bank Amar Indonesia dengan CAR sebesar 121,60% per Maret 2025, naik dari posisi tahun lalu (yoy) yang sebesar 119,20%.

Presiden Direktur Allo Bank Indra Utoyo megatakan, posisi yang sangat kuat ini diharapkan dapat lebih memantapkan posisi Allo Bank sebagai salah satu bank umum berbasis digital terkemuka dalam industri perbankan nasional.

Baca Juga: Bunga Kompetitif, Deposito Bank Digital Jadi Pilihan

TRENDING  OJK Rancang Aturan Soal Rapat Umum Lender Fintech Lending, Ini Kata Modal Rakyat

“Kami menilai bahwa posisi ekuitas yang kuat ini sangat suportif untuk menghadapi setiap resiko serta mendukung aspirasi pertumbuhan Bank saat ini dan di masa depan. Dengan demikian, kami belum memiliki rencana untuk melakukan penambahan modal lagi secara inorganik melalui Aksi Korporasi pada tahun 2025,” ungkap Indra kepada Beritafintech.com, Jumat (16/5).

Lebih lanjut Indra menjelaskan, Allo Bank mengelola permodalan secara proaktif untuk mendukung fungsi intermediasinya, dan secara berkala melakukan kajian untuk memperkuat struktur permodalan bila dan dimana diperlukan sesuai dengan peraturan dari regulator dan pertumbuhan dan kebutuhan bisnis, tentunya dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi pasar.

Ke depan, khususnya selama tahun 2025, Allo Bank disebut akan menjalankan model bisnis Hibrida dimana aktivitas segmen Retail dan Wholesale akan berjalan secara beriringan dan terintegrasi untuk mendukung pertumbuhan bisnis Bank yang optimal.

Baca Juga: Bank Digital Makin Ekspansif Salurkan Kredit, Intip Strateginya

Menurut Indra, kebutuhan nasabah segmen Retail dan Wholesale dalam bertransaksi pada era digital adalah prioritas utama Bank dalam menciptakan produk dan layanan berbasis digital yang inovatif dan memberikan kemanfaatan ekonomi tidak hanya untuk Bank tetapi juga nasabah.

“Bank akan mengutamakan aktivitas berbasis digital (digital first) dan integrasi layanan finansial dengan ekosistem mitra (ecosystem first) dalam rangka menjalankan bisnis Bank,” terangnya.

Posisi kedua ada PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang mencatat modal inti sebesar Rp 6,39 triliun pada kuartal I-2025. Walau demikian angka ini menurun 4,68% yoy. Posisi CAR per Maret 2025 tercatat masih kuat, yakni sebesar 36,44%, meskipun telah menurun dari 55,02% di Maret 2024 lalu.

Tjit Siat Fun, Direktur Kepatuhan sekaligus Sekretaris Perusahaan Bank Jago menyampaikan, kuatnya permodalan merupakan komitmen Bank Jago sejak awal beroperasi sebagai bank berbasis teknologi, terutama dalam menjaga fundamental keuangan selalu solid dan sehat, melalui pengelolaan aset yang berkualitas serta pengelolaan risiko yang baik.

TRENDING  Aplikasi Transfer Uang Gratis Biaya Admin, Bisa Kirim Rp1

“Hal ini penting untuk menopang likuiditas dan mendukung ekspansi inovasi dan bisnis kami ke depan, serta memperkuat kolaborasi dengan ekosistem digital,” ujar Afun.

Afun mengaku, sampai saat ini belum ada rencana Bank Jago untuk menambah modal mengingat kondisi likuiditas masih cukup baik dan kecukupan modal masih sangat besar.

Menurutnya, secara umum kecukupan modal Bank Jago masih cukup kuat untuk mendukung ekspansi bisnis. Kondisi CAR saat ini sejalan dengan ekspansi kredit melalui mitra kolaborasi, seperti ekosistem dan platform digital, perusahaan pembiayaan, dan lembaga keuangan lainnya.

Total penyaluran kredit Bank Jago per Maret 2025 mencapai Rp 20,3 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar Rp 14,3 triliun. Penyaluran kredit dilakukan secara hati-hati dan terukur yang terlihat dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross di level 0,3%.

Ke depan, pihaknya akan terus berfokus menjaga fundamental keuangan tetap solid dan sehat guna memastikan keberlanjutan pertumbuhan secara berkualitas.

“Strateginya antara lain dengan menerapkan manajemen risiko yang baik, menjaga aset bertumbuh secara berkualitas dan memastikan likuiditas baik, serta memperkuat inovasi dan kolaborasi dalam ekosistem digital,” tandasnya.

Selanjutnya ada PT Bank Jasa Jakarta atau yang dikenal saat ini dengan nama Bank Saqu juga memiliki permdoalan yang kuat. Per Maret 2025 modal inti Bank Saqu mencapai Rp 6,05 triliun. Tapi modal intinya terlihat menurun secara yoy dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 6,5 triliun.

Adapun PT Bank Raya Indonesia Tbk memiliki modal inti Rp 3,22 triliun per kuartal I-2025. Capaian ini meningkat 0,50% yoy. Sementara CAR tercatat sebesar 41,04% angka ini menurun dari 45,33% di Maret 2024.

TRENDING  Sambut HUT RI ke-80, Bank Mandiri Akselerasi Generasi Muda Melek Finansial Lewat SimPel

Baca Juga: Kuartal 1/2025 Berakhir, Bagaimana Proyeksi Kinerja Laba Bank-Bank Digital?

Direktur Keuangan Bank Raya Rustarti Suri Pertiwi menjelaskan, bahwa modal inti dan CAR Bank Raya yang semakin kuat ditopang oleh kinerja perusahaan yang positif dan profitabilitas yang membaik, tercermin pada Laba Bersih di Kuartal I/2025 sebesar Rp16,92 miliar dengan kenaikan 84,7% secara tahunan (yoy). 

Pertumbuhan laba ini ditopang dari peningkatan Pendapatan Bunga sebesar 12,6% (yoy) menjadi Rp286,93 miliar dengan driver adalah Pendapatan Bunga Kredit yang tumbuh 17,35% (yoy) menjadi Rp203,98 miliar.

“Sampai dengan saat ini, Bank Raya belum berencana untuk menambah modal, mengingat modal bank raya sudah mencukupi untuk mendukung pertumbuhan bisnis Bank Raya kedepan, terlihat dari CAR 41,04% dan rasio Tier 1 CAR sebesar 40,25% yang akan mendukung ekspansi pertumbuhan bisnis Perseroan ke depan,” terangnya.

Menurutnya, dengan modal yang cukup, maka suatu Bank dapat mengantisipasi apabila terdapat unexpected risiko, seperti misalnya risiko operasional. Dengan demikian, kecukupan modal menjadi hal yang utama yang harus dijaga oleh suatu Bank, karena dengan modal yang cukup maka suatu Bank dapat terus melakukan ekspansi bisnisnya dan menjalankan operasional bisnisnya secara baik.

Adapun untuk Bank Raya, dengan Total CAR sebesar 41.04%, maka Bank Raya yakin untuk dapat terus mengembangkan bisnis digitalnya kedepan, dimana Bank Raya akan terus memperkuat perannya sebagai digital attacker BRI Group dan menangkap peluang pertumbuhan dari bisnis digital di Indonesia.

Baca Juga: Pergerakan Saham Bank Digital Melaju, Lampaui Big Banks

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Jaga Kepercayaan Lender Fintech Lending, OJK Bakal Lakukan Sejumlah Upaya Ini

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan melakukan sejumlah upaya untuk menjaga kepercayaan para pemberi pinjaman di industri fintech lending. Langkah-langkah ini dilakukan guna memastikan transparansi dan keamanan dalam layanan pinjaman online. Dengan adanya regulasi yang ketat, diharapkan dapat meningkatkan kredibilitas serta perlindungan bagi para konsumen. Selain itu, OJK juga akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaku usaha fintech lending agar tetap beroperasi sesuai dengan aturan yang berlaku. Dengan demikian, diharapkan industri fintech lending dapat terus berkembang secara positif dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas

  • Asei Dikabarkan Gabung Dalam Konsorsium Asuransi Kredit untuk Fintech Lending

    Asei dikabarkan telah resmi bergabung dalam konsorsium asuransi kredit untuk fintech lending. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk memperluas layanan dan mendukung perkembangan industri fintech di Indonesia. Dengan bergabungnya Asei dalam konsorsium ini, diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih baik bagi para pelaku usaha fintech lending serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan tersebut. Selain itu, kehadiran Asei juga diharapkan dapat membantu mengurangi risiko yang mungkin timbul dalam transaksi kredit melalui platform fintech. Dengan demikian, kolaborasi antara Asei dan konsorsium asuransi lainnya diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan industri fintech lending di Tanah Air

  • Fintech Tunjuk Ronald Waas Sebagai Dewan Komisaris

    Fintech Tunjuk Ronald Waas Sebagai Dewan Komisaris

    Fintech, perusahaan teknologi keuangan terkemuka di Indonesia, baru-baru ini mengumumkan penunjukan Ronald Waas sebagai anggota Dewan Komisaris mereka. Keputusan ini disambut dengan antusias oleh para pelaku industri finansial di Tanah Air.

    Ronald Waas, yang memiliki pengalaman luas dalam bidang keuangan dan investasi, diharapkan dapat membawa inovasi dan strategi baru bagi Fintech. Dengan latar belakangnya yang kuat dalam manajemen risiko dan pengembangan produk keuangan, Ronald diyakini mampu membantu Fintech mencapai tujuan mereka untuk menjadi pemimpin pasar dalam layanan keuangan digital.

    Para pemegang saham dan karyawan Fintech pun optimis dengan kedatangan Ronald sebagai bagian dari tim manajemen perusahaan. Mereka percaya bahwa dengan kepemimpinan yang visioner dan komitmen yang kuat, Fintech akan semakin berkembang pesat dan memberikan nilai tambah bagi seluruh stakeholders-nya.

    Dengan penunjukan Ronald Waas sebagai Dewan Komisaris, Fintech siap melangkah lebih jauh menuju kesuksesan di dunia fintek Indonesia. Semua mata tertuju pada langkah-langkah strategis yang akan diambil oleh Ronald untuk memperkuat posisi perusahaan dalam persaingan industri finansial yang semakin ketat

  • Menkes Izinkan Praktik Dokter Umum bagi PPDS untuk Ringankan Beban Finansial

    Menkes Izinkan Praktik Dokter Umum bagi PPDS untuk Ringankan Beban Finansial

    Kementerian Kesehatan (Menkes) telah mengeluarkan kebijakan yang memperbolehkan praktik dokter umum bagi para calon spesialis (PPDS) guna membantu ringankan beban finansial mereka. Keputusan ini disambut baik oleh para PPDS yang merasa lega dengan adanya kemudahan akses layanan kesehatan.

    Dengan izin praktik dokter umum, para PPDS dapat memperoleh penghasilan tambahan selain dari gaji mereka sebagai calon spesialis. Hal ini diharapkan dapat membantu mengurangi beban finansial yang biasanya dialami oleh para PPDS selama menjalani pendidikan spesialis.

    Para PPDS pun berharap agar kebijakan ini dapat terus diperluas dan diterapkan di seluruh rumah sakit di Indonesia. Mereka percaya bahwa dengan adanya kemudahan akses layanan kesehatan, akan semakin banyak masyarakat yang mendapatkan pelayanan kesehatan berkualitas tanpa harus khawatir dengan biaya yang mahal.

    Dengan langkah progresif ini, diharapkan sistem kesehatan Indonesia dapat semakin berkembang dan memberikan manfaat bagi semua pihak, termasuk para calon spesialis yang sedang menjalani pendidikan mereka

  • Pinjol Ilegal Merugikan Industri Fintech, Simak Daftar Pinjol Legal OJK Maret 2025

    Pinjol ilegal telah merugikan industri fintech dengan praktik-praktik yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu, penting bagi masyarakat untuk memahami daftar pinjol legal yang telah terdaftar di OJK pada bulan Maret 2025. Dengan mengetahui daftar pinjol legal ini, kita dapat menghindari risiko kerugian dan melindungi diri dari praktik ilegal yang merugikan. Jadi, pastikan untuk selalu memilih pinjol yang sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK agar keuangan kita tetap aman dan terlindungi