OJK Perketat Regulasi Fintech P2P Lending, AFPI Pastikan Kepatuhan Industri

Laba Fintech Lending Naik Signifikan 90,4% per November 2025, Ini Kata AFPI

ILUSTRASI. Ketua Umum AFPI Entjik S. Djafar (KONTAN/Nadya Zahira)

Beritafintech.com – JAKARTA. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) naik 90,4% secara Year on Year (YoY), menjadi sebesar Rp 2,38 triliun per November 2025. 

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai kenaikan jumlah borrower sehingga pembiayaan meningkat menjadi faktor utama kinerja laba bisa naik signifikan.

Ketua Umum AFPI Entjik Djafar mengatakan kenaikan borrower tersebut salah satunya disebabkan juga terjadinya switching atau peralihan dari pinjaman online (pinjol) ilegal. 

“Hal itu berdampak positif pada industri. Membuktikan upaya edukasi dari OJK dan AFPI sudah mulai sampai ke masyarakat,” ungkapnya kepada Kontan, Minggu (25/1/2026).

Baca Juga: Fraud Terpa Industri Fintech Lending, AFPI Tekankan Pentingnya Tata Kelola yang Benar

Entjik optimistis kinerja laba industri fintech lending bisa tetap positif pada 2026. Dia bilang pihaknya akan terus berupaya melakukan edukasi dan literasi yang lebih gencar lagi pada 2026 agar masyarakat bisa membedakan antara pinjol ilegal dan pindar.

“Untuk 2026, kami berharap market pinjol ilegal bisa berangsur-angsur berkurang. Kami masih optimistis laba tetap positif,” kata Entjik. 

Senada dengan AFPI, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman memproyeksikan laba industri fintech lending bisa terus tumbuh.

TRENDING  Pakai Dompet Digital SpeedCash Bisa Transfer E-Wallet Gratis Biaya Admin

“Industri pindar diproyeksikan dapat terus mencatatkan pertumbuhan laba yang positif pada tahun depan,” ujarnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK.

Agusman mengatakan industri perlu mewaspadai tantangan yang bisa mempengaruhi kinerja industri fintech lending pada tahun 2026. Tantangannya, seperti perlunya penguatan mitigasi risiko kredit dan penguatan ketahanan terhadap dinamika perekonomian. 

Baca Juga: AFPI: Fintech Lending Berupaya Kejar Target Porsi Pembiayaan Produktif 40%-50%

“Oleh karena itu, penyelenggara perlu melakukan langkah-langkah penguatan untuk menjaga keberlanjutan dan kualitas pembiayaan,” kata Agusman.

Terkait kinerja terakhir, OJK mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 94,85 triliun per November 2025. Nilai itu tercatat tumbuh sebesar 25,45% secara YoY.

Adapun tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 fintech P2P lending per November 2025 tercatat sebesar 4,33%. 

Selanjutnya: Biaya Stabilisasi Rupiah Berpotensi Menekan Surplus BI pada Tahun 2025 dan 2026

Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Bank Masih Memacu Penyaluran Kredit Channeling Lewat Fintech Lending

    Bank masih memacu penyaluran kredit channeling lewat fintech lending dengan harapan dapat meningkatkan akses pembiayaan bagi para pelaku usaha kecil dan menengah. Dengan adanya kerjasama antara bank dan platform fintech, diharapkan proses pengajuan kredit menjadi lebih mudah dan cepat. Hal ini tentu saja menjadi kabar baik bagi para pengusaha yang membutuhkan modal untuk mengembangkan usahanya. Selain itu, bank juga berharap dapat meningkatkan portofolio kreditnya melalui channeling lewat fintech lending ini. Dengan demikian, kolaborasi antara bank dan fintech lending diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia

  • Diam-diam, Prabowo Panggil Bos Bank BUMN Ke Magelang

    ILUSTRASI. Presiden Prabowo Subianto menunggu kedatangan tamu negara di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/10/2024). PPresiden Prabowo Subianto telah memanggil pimpinan dari bank-bank BUMN ke Magelang. Beritafintech.com – BANDA ACEH. Di sela-sela kesibukannya melakukan pembekalan bersama kabinet Merah Putih, Presiden Prabowo Subianto telah memanggil pimpinan dari bank-bank BUMN. Hal tersebut terungkap kala Direktur Utama PT Bank…

  • Penyaluran KPR Lesu, OJK: Bank Lebih Selektif dan Hati-hati Salurkan Kredit

    Penyaluran KPR Lesu, OJK: Bank Lebih Selektif dan Hati-hati Salurkan Kredit

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh kebijakan bank yang lebih selektif dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat.

    Bank-bank saat ini lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit agar tidak terjadi masalah di kemudian hari. Mereka melakukan evaluasi yang lebih ketat terhadap calon peminjam, termasuk melihat kemampuan finansial dan riwayat kredit sebelumnya.

    Meskipun hal ini dapat memperlambat pertumbuhan sektor properti, namun langkah tersebut dianggap perlu untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. OJK pun terus mengawasi perkembangan penyaluran KPR agar tetap berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan risiko bagi pihak-pihak yang terlibat

  • Begini Rapor Kinerja Sejumlah Bank di Kuartal III-2024

    ILUSTRASI. Sejumlah bank yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengumumkan kinerja keuangan pada kuartal ketiga tahun ini Beritafintech.com-JAKARTA. Sejumlah bank yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengumumkan kinerja keuangan pada kuartal ketiga tahun ini yang berakhir pada 30 September 2024.  Bank-bank tersebut antara lain, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT…

  • Manajemen Risiko Finansial Bank Bulion di Indonesia

    Manajemen risiko finansial merupakan hal yang sangat penting bagi Bank Bulion di Indonesia. Dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan di pasar keuangan, bank ini harus mampu mengelola risiko dengan baik agar tetap dapat bertahan dan berkembang. Risiko-risiko seperti risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas harus dikelola secara hati-hati dan proaktif.

    Bank Bulion juga harus memperhatikan regulasi yang ada terkait manajemen risiko finansial agar tidak melanggar aturan yang berlaku. Selain itu, bank ini juga perlu memiliki tim yang kompeten dalam bidang manajemen risiko finansial untuk dapat mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengelola risiko dengan tepat.

    Dengan melakukan manajemen risiko finansial yang baik, Bank Bulion di Indonesia akan dapat meningkatkan kepercayaan nasabah serta menjaga reputasi mereka sebagai lembaga keuangan yang aman dan terpercaya. Selain itu, bank ini juga akan lebih siap dalam menghadapi berbagai ketidakpastian di pasar keuangan sehingga dapat tetap bersaing secara sehat di industri perbankan

  • Daftar Terkini OJK, Ini 98 Pinjol Resmi Per Juli 2024

    ILUSTRASI. Sampai dengan 12 Juli 2024, total jumlah penyelenggara pinjol yang berizin di OJK adalah sebanyak 98 perusahaan. KONTAN/Carolus Agus Waluyo Beritafintech.com – JAKARTA. Saat ini di Indonesia, pinjol semakin menjamur. Itu sebabnya, masyarakat harus jeli dalam memilih pinjol.  Jika ingin mengajukan pinjaman, sebaiknya mengajukan ke pinjol resmi alias legal.  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis daftar…