Fitch Revisi Outlook Bank Mandiri, BRI, BNI dan LPEI Jadi Negatif, Rating Tetap BBB

Fitch Revisi Outlook Bank Mandiri, BRI, BNI dan LPEI Jadi Negatif, Rating Tetap BBB

ILUSTRASI. USA RATING FITCH (REUTERS/JESSICA RINALDI)

Beritafintech.com – JAKARTA. Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings merevisi outlook peringkat empat bank badan usaha milik negara (BUMN) menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Meski begitu, lembaga pemeringkat tersebut tetap mempertahankan peringkat (rating) bank-bank tersebut.

Keempat bank yang outlook peringkatnya direvisi menjadi negatif adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), serta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank).

Dalam laporan yang dirilis Senin (9/3/2026), Fitch menyatakan Issuer Default Rating (IDR) jangka panjang dalam mata uang asing keempat lembaga tersebut tetap berada di level BBB, tetapi outlook-nya berubah menjadi negatif.

Baca Juga: Literasi Finansial Jadi Bekal Jitu Menghadapi Gejolak di Pasar Keuangan

Meski begitu, Fitch menegaskan Government Support Rating (GSR) serta IDR jangka pendek dari bank-bank tersebut masih dipertahankan. 

Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mempertahankan outlook stabil, dengan peringkat yang juga ditegaskan oleh Fitch.

Revisi outlook tersebut mengikuti keputusan Fitch sebelumnya yang menurunkan outlook peringkat utang negara Indonesia menjadi negatif dari stabil pada 4 Maret 2026.

Fitch menilai, kecenderungan pemerintah untuk memberikan dukungan kepada bank-bank BUMN masih kuat, mengingat peran penting bank-bank tersebut dalam sistem keuangan nasional.

Mandiri, BRI, dan BNI dinilai memiliki kepentingan sistemik yang tinggi, dengan pangsa pasar deposito sekitar 10%–21% per akhir 2025.

Selain itu, BSI dan Indonesia Eximbank juga memiliki peran kebijakan dalam mendukung agenda pemerintah, termasuk pengembangan keuangan syariah dan pembiayaan ekspor.

TRENDING  Akuisisi Bank Muamalat oleh BTN Batal, Kenapa?

Meski demikian, Fitch menilai kemampuan pemerintah untuk memberikan dukungan telah melemah, sejalan dengan perubahan outlook peringkat sovereign Indonesia menjadi negatif.

“Outlook IDR jangka panjang Mandiri, BRI, BNI, dan Indonesia Eximbank direvisi menjadi negatif untuk mencerminkan outlook negatif pada peringkat sovereign Indonesia,” tulis Fitch dalam laporannya.

Baca Juga: Ini Kata PPGI Soal Makin Bertambahnya Perusahaan Gadai di Indonesia

Adapun untuk BSI, Fitch menyatakan peringkat jangka panjang bank syariah tersebut lebih ditopang oleh kekuatan fundamentalnya sendiri, yang tercermin dari Viability Rating (VR) di level BBB-.

Karena itu, outlook peringkat BSI tetap stabil meskipun terdapat perubahan outlook sovereign.

Fitch menambahkan, peringkat bank-bank BUMN tersebut berpotensi turun apabila peringkat utang negara Indonesia juga mengalami penurunan.

Sebaliknya, outlook peringkat dapat kembali stabil jika outlook sovereign Indonesia kembali stabil. Namun, Fitch menilai kenaikan peringkat dalam waktu dekat masih kecil kemungkinannya, mengingat outlook saat ini masih negatif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Ide Peluang Usaha yang Belum Banyak Pesaing 2023

    beritafintech.com – Kunci peluang usaha sebenarnya terletak pada cara kita untuk melihat setiap potensi yang ada. Peluang usaha yang belum banyak pesaing, bisa menjadi rekomendasi untuk memulai bisnis baru. Berikut 17 ide peluang usaha bisnis baru nantinya. Dengan membuka usaha yang tidak memiliki banyak pesaing, juga merupakan peluang untuk mendapatkan pasar sebanyak-banyaknya. Sesuatu bisa disebut peluang usaha adalah ketika kita…

  • Pembiayaan Fintech P2P Lending Tumbuh Makin Melambat Dalam Beberapa Bulan Terakhir

    Pembiayaan fintech P2P lending telah menjadi salah satu tren yang sedang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, pertumbuhan industri ini mulai melambat. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti regulasi yang semakin ketat dan tingginya tingkat risiko bagi para investor.

    Meskipun demikian, masih banyak pelaku usaha yang memilih untuk menggunakan layanan pembiayaan fintech P2P lending sebagai alternatif dari pinjaman bank konvensional. Mereka melihat bahwa proses pengajuan pinjaman yang cepat dan mudah serta suku bunga yang kompetitif menjadi daya tarik utama dari layanan ini.

    Namun, bagi para investor, mereka harus lebih berhati-hati dalam memilih platform P2P lending yang aman dan terpercaya. Dengan adanya kasus-kasus penipuan dan kebangkrutan platform P2P lending belakangan ini, investor perlu melakukan riset mendalam sebelum menempatkan investasi mereka di platform tersebut.

    Dengan perkembangan industri fintech P2P lending yang semakin lambat belakangan ini, penting bagi semua pihak untuk tetap waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan agar tidak terjerumus ke dalam masalah finansial yang lebih besar di masa depan

  • TWP90 Mencapai Level 81,18%, Ini Tanggapan Fintech iGrow

    Menurut Fintech iGrow, pencapaian level 81,18% merupakan hasil kerja keras dan komitmen tim yang luar biasa. Mereka sangat bangga dengan pencapaian ini dan berencana untuk terus meningkatkan layanan agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Dengan semangat yang tinggi, mereka yakin dapat mencapai target-target yang lebih ambisius di masa depan

  • Dapen BCA Terapkan Strategi Ini Guna Meningkatkan Return of Investment pada 2026

    Dalam upaya untuk meningkatkan Return of Investment (ROI) pada tahun 2026, Dapen BCA telah menerapkan strategi yang inovatif dan efektif. Melalui langkah-langkah yang terencana dengan baik, Dapen BCA optimis dapat mencapai tujuan ROI yang lebih tinggi di masa depan.

    Salah satu strategi yang diterapkan adalah diversifikasi portofolio investasi, dimana Dapen BCA akan mengalokasikan dana pada berbagai instrumen keuangan yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko dan meningkatkan potensi keuntungan bagi para investor.

    Selain itu, Dapen BCA juga akan melakukan analisis pasar secara mendalam dan terus memantau perubahan tren ekonomi global. Dengan demikian, mereka dapat mengidentifikasi peluang investasi yang potensial dan mengambil langkah-langkah strategis untuk memaksimalkan ROI.

    Dengan komitmen kuat dan strategi yang tepat, Dapen BCA yakin bahwa mereka dapat mencapai pertumbuhan ROI yang signifikan pada tahun 2026. Para investor pun diharapkan dapat merasakan manfaat dari keputusan investasi yang cerdas ini

  • KPPU Teruskan Kasus Dugaan Kartel Fintech

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) telah memutuskan untuk melanjutkan kasus dugaan kartel di industri fintech. Kasus ini menjadi sorotan publik karena potensi dampaknya terhadap persaingan usaha dan konsumen. KPPU berkomitmen untuk menindak tegas praktik kartel yang merugikan masyarakat dan mengganggu ketertiban pasar. Semua pihak yang terlibat dalam praktik kartel akan dikenakan sanksi sesuai dengan Undang-Undang Persaingan Usaha. KPPU mengajak seluruh pelaku usaha fintech untuk patuh pada aturan yang berlaku demi menciptakan lingkungan bisnis yang sehat dan adil bagi semua pihak

  • Bank Syariah Nasional Lahir, Ini Jajaran Pengurusnya

    Bank Syariah Nasional (BSN) lahir sebagai bank syariah pertama di Indonesia pada tahun 2000. Sejak itu, BSN telah menjadi salah satu bank terkemuka dalam layanan keuangan berbasis syariah di Indonesia.

    Dalam menjalankan operasinya, BSN memiliki jajaran pengurus yang sangat kompeten dan berpengalaman. Mereka adalah para ahli dalam bidang keuangan syariah yang siap memberikan pelayanan terbaik kepada nasabahnya.

    Dengan adanya jajaran pengurus yang handal ini, BSN mampu memberikan solusi keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah kepada seluruh nasabahnya. Hal ini membuat BSN semakin dipercaya oleh masyarakat sebagai lembaga keuangan yang dapat diandalkan.

    Jadi, tidak heran jika Bank Syariah Nasional menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin mendapatkan layanan perbankan berbasis syariah dengan kualitas terbaik