AIA Indonesia Menyasar Nasabah yang Mencari Aman

Bank cilik mempercepat aksi penambahan modal

ILUSTRASI. Pelayanan nasabah?Bank Bisnis Internasional di Bandung

Beritafintech.com – JAKARTA. Sebelas bank umum kegiatan usaha (BUKU) 1 yang memiliki modal di bawah Rp 1 triliun kini tengah bergegas melakukan aksi penambahan modal. Maklum, sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), akhir tahun bank wajib memenuhi ketentuan modal minimum Rp 1 triliun.

Sebelas bank tersebut berasal dari empat bank daerah yaitu: Bank Sulteng, Bank Lampung, Bank Bengkulu, Bank Banten, tiga bank syariah: Bank Bukopin Syariah, Bank Victoria Syariah, dan Bank Net Indonesia Syariah yang sebelumnya bernama Bank Maybank Syariah. Sisanya empat bank umum swasta yaitu Bank Harda Indonesia, Bank Bisnis Internasional, Bank Fama Internasional, dan Bank Prima Master.

Sesuai POJK 12/POJK.03/2020, ketentuan modal minimum ini juga mesti ditingkatkan menjadi Rp 2 triliun tahun depan, dan minimum Rp 3 triliun pada 2022. Makanya, tak cuma BUKU 1, sejumlah BUKU 2 yang modalnya masih d bawah Rp 2 triliun pun sudah mulai mempersiapkan aksi serupa. 

Baca Juga: Masuknya Kookmin perkuat kepercayaan investor publik ke Bukopin

PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BBSI) misalnya bakal berencana menggelar kasi tambah modal via rights issue setelah melantai di bursa belum lama ini.  “Awal November kami akan selenggarakan RUPSLB, salah satu agendanya untuk meminta persetujuan rights issue kepada pemegang saham,” kata Corporate Secretary Bank Bisnis Paulus Tanujaya kepada KONTAN, Rabu (7/10).

Aksi rights issue dilakukan dengan menerbitkan 438.627.450 saham atau setara 16,67% modal disetor perseroan. Sayang, Paulus masih enggan membocorkan berapa nilai pelaksanaan maupun target pendanaannya. Adapun aksi tersebut tetap perlu dilakukan perseroan, sebab aksi initial public offering (IPO) perseroan lalu belum mampu mengerek banyak modal perseroan. 

TRENDING  Kredit Macet Fintech Lending Meningkat dari Kalangan Muda, OJK Ungkap Pemicunya

Sampai Juni 2020 modal inti perseroan masih tercatat senilai Rp 508,53 miliar, ditambah penghimpunan dana di bursa Rp 189,49 miliar, Bank Bisnis masih perlu Rp 300 miliar lebih untuk mencapai modal inti Rp 1 triliun. 

Sementara PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) kini tengah menanti investor anyar guna menyuntik modal. Sayang saat dikonfirmasi, Direktur Bank Harda Yohanes Simon, masih enggan membeberkan rencana detil perseroan. “Intinya kami pasti akan memenuhi ketentuan modal dari OJK. soal aksi korporasi, akan kami umumkan nanti,” katanya kepada KONTAN.

Baca Juga: Penurunan cadangan devisa diperkirakan masih bisa berlanjut

Adapun sampai Juni 2020, modal inti perseroan tercatat merosot 8,50% (yoy), dari Rp 297,32 miliar pada Juni 2019 menjadi Rp 272,03 miliar. 

Adapula PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) yang modalnya melulu tergerus belakangan tahun akhirnya bakal dapat dana dari Pemprov Banten senilai Rp 1,55 triliun. Per Juni 2020, modal inti Bank Banten tercatat cuma Rp 63,09 miliar, anjlok sedalam 70,95% (yoy).

Tambahan modal dipastikan setelah RUPSLB Bank Banten 2 Oktober 2020 lalu. Meskipun dana yang akan diserahkan Pemprov sejatinya dana bukan dana segar, melainkan konversi rekening umum kas daerah (RKUD) Pemprov yang selama ini juga telah disimpan di Bank Banten.  “Meskipun berasal dari RKUD, dampaknya akan tetap signifikan dampaknya, karena kami bisa menjadi BUKU 2 sehingga lebih leluasa melakukan ekspansi. Kemudian rasio keuangan juga bakal meningkat,” kata Direktur Bank Banten Kemal Idris belum lama ini. 

Similar Posts

  • Begini Rapor Kinerja Sejumlah Bank di Kuartal III-2024

    ILUSTRASI. Sejumlah bank yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengumumkan kinerja keuangan pada kuartal ketiga tahun ini Beritafintech.com-JAKARTA. Sejumlah bank yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengumumkan kinerja keuangan pada kuartal ketiga tahun ini yang berakhir pada 30 September 2024.  Bank-bank tersebut antara lain, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT…

  • Technical Notes

    Teknik pengoptimalan yang digunakan dalam penelitian ini telah berhasil meningkatkan efisiensi sistem sebesar 20%. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan yang kami gunakan mampu memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan kinerja sistem. Selain itu, kami juga berhasil mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi kinerja sistem dan merancang strategi untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan teknologi informasi di masa depan

  • Buruan Intip 10 Cara Sehat Finansial dengan Atur Gaji Bulanan

    Jakarta: Setiap orang pernah merasakan kesulitan mengatur uang, terutama generasi muda yang baru masuk ke dunia kerja dengan sebelumnya perlu mengetahui kondisi finansial pribadi melalui penentuan tujuan finansial. Untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi finansial maka bisa dilakukan dengan financial check-up.  “Sehingga, bisa lebih tepat dalam mengelola keuangan yang sesuai juga dengan tujuan finansial di awal

  • AFPI-BPRS Asbisindo Akselerasi Pendanaan Fintech ke Daerah

    AFPI-BPRS Asbisindo telah meluncurkan program akselerasi pendanaan fintech ke daerah dengan tujuan untuk mendukung perkembangan industri fintech di seluruh Indonesia. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada para pelaku usaha fintech di daerah untuk mendapatkan akses pendanaan yang lebih mudah dan cepat. Dengan adanya program ini, diharapkan dapat meningkatkan inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah terpencil. Selain itu, program ini juga akan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para pelaku usaha fintech agar mereka dapat berkembang secara berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. Dengan demikian, AFPI-BPRS Asbisindo berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan industri fintech di Indonesia demi kemajuan ekonomi bangsa

  • Pembiayaan Fintech P2P Lending Tumbuh Makin Melambat Dalam Beberapa Bulan Terakhir

    Pembiayaan fintech P2P lending telah menjadi salah satu tren yang sedang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, pertumbuhan industri ini mulai melambat. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti regulasi yang semakin ketat dan tingginya tingkat risiko bagi para investor.

    Meskipun demikian, masih banyak pelaku usaha yang memilih untuk menggunakan layanan pembiayaan fintech P2P lending sebagai alternatif dari pinjaman bank konvensional. Mereka melihat bahwa proses pengajuan pinjaman yang cepat dan mudah serta suku bunga yang kompetitif menjadi daya tarik utama dari layanan ini.

    Namun, bagi para investor, mereka harus lebih berhati-hati dalam memilih platform P2P lending yang aman dan terpercaya. Dengan adanya kasus-kasus penipuan dan kebangkrutan platform P2P lending belakangan ini, investor perlu melakukan riset mendalam sebelum menempatkan investasi mereka di platform tersebut.

    Dengan perkembangan industri fintech P2P lending yang semakin lambat belakangan ini, penting bagi semua pihak untuk tetap waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan agar tidak terjerumus ke dalam masalah finansial yang lebih besar di masa depan

  • Konsisten Dukung Ekonomi Hijau Bank Mandiri Pimpin Pembiayaan Berkelanjutan Nasional

    Bank Mandiri terus konsisten dalam mendukung ekonomi hijau di Indonesia. Sebagai pemimpin dalam pembiayaan berkelanjutan, Bank Mandiri telah memimpin upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan. Dengan komitmen yang kuat, Bank Mandiri telah menjadi pionir dalam menyediakan pembiayaan untuk proyek-proyek yang mendukung pembangunan berkelanjutan di seluruh negeri. Dengan langkah-langkah inovatif dan strategis, Bank Mandiri terus memperkuat posisinya sebagai pelopor dalam mendukung ekonomi hijau di Indonesia