Pemicu Kredit Macet Allo Bank (BBHI) Meningkat di Semester I-2025

Pemicu Kredit Macet Allo Bank (BBHI) Meningkat di Semester I-2025

ILUSTRASI. Aktivitas nasabah pada kantor cabang AlloBank ci Jakarta, Jumat (10/3/2023).PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) mengalami pemburukan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) pada periode semester-I 2025.

Beritafintech.com – JAKARTA. PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) mengalami pemburukan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) pada periode semester-I 2025.

Merujuk pada laporan keuangan Allo Bank, per Juni 2025, dicatat rasio NPL gross di level 1,53%, meningkat dari NPL per Juni tahun 2024 yang sebesar 0,42%.

Sejalan dengan ini, Allo Bank membentuk biaya pencadangan atau provisi sebagai bantalan yang juga makin tebal, naik 384.4% YoY menjadi Rp 150,1 miliar dari periode sama tahun sebelumnya yang masih sebesar Rp 30,9 miliar.

Baca Juga: Allo Bank (BBHI) Catat Laba Bersih Naik 13,2% Jadi Rp 227 Miliar pada Semester I-2025

Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, Ganda Raharja Rusli mengatakan bahwa kenaikan NPL Allo Bank ini terjadi akibat adanya pemburukan NPL di beberapa segmen kredit ritel. 

Hal ini disebabkan pengaruh dari tekanan ekonomi seperti adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa sektor industri di awal tahun 2025 yang cukup berdampak kepada sebagian nasabah kredit retail di Allobank.

Dengan kondisi ini, dia memproyeksikan NPL Allo Bank hingga akhir tahun 2025 belum bisa lebih rendah dari capaian NPL Allo Bank di Juni tahun 2024 lalu.

TRENDING  Ancaman Phishing Finansial Asia Tenggara Naik 41%

“Kami memproyeksikan angka NPL yang lebih rendah dari level posisi Juni 2025, namun tidak akan serendah level 0,42% mengantisipasi situasi ekonomi saat ini sampai dengan akhir tahun 2025,” ujar Ganda kepada Kontan, Senin (29/9/2025).

Baca Juga: Ini Penyebab Kinerja Laba Bank Swasta Ungguli Bank BUMN di Semester I-2025

Strategi dalam menurunkan NPL ini, dijelaskan Ganda, bahwa Allo Bank akan terus menyalurkan pembiayaan secara prudent, terutama dengan terus melakukan perbaikan kriteria underwriting dan memanfaatkan alternative data yang tersedia.

Di sisi lain, Bank juga akan memperkuat loan monitoring sehingga bisa mengantisipasi pemburukan tingkat pengembalian pinjaman di level individu.

“Penguatan dan perbaikan proses penagihan juga kami lakukan dengan tetap mengacu kepada peraturan yang berlaku,” pungkasnya. 

Advisor Banking & Finance Development Center Moch Amin Nurdin menyampaikan bahwa rasio NPL pada bank digital yang makin tebal ini disebabkan rata-rata bank digital yang lebih banyak melayani segmen UMKM.

Baca Juga: Lebih Selektif, Kredit Macet UMKM Bank CIMB Niaga Menyusut

Sehingga ketika daya beli sedang terpuruk, kemampuan debitur dalam membayar kredit pun ikut menurun.

“Bank digital rata-rata konsumennya adalah UMKM, sehingga ketika daya beli yang sedang turun saat ini, maka kemampuan bayar mereka juga turun,” jelas Amin.

Selain itu, Amin menilai bahwa bank digital tampak terlalu ekspansif. Sehingga, kurang berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

Baca Juga: Risiko Kredit Macet Intai Bank BUMN, Ini Kata OJK

“Selain itu Bank digital menurut saya terlalu ekspansif, sehingga kurang hati-hati dan jika mereka menggunakan mesin dalam proses inisiasi kredit, ada kemungkinan itu menjadi urang prudent,” lanjut Amin.

TRENDING  Akan Ada Asuransi Kredit untuk Fintech P2P Lending, AFPI Prediksi Bakal Sepi Peminat

Selanjutnya: IHSG Melemah 0,77% ke 8.061 pada Selasa (30/9/2025), INDF, ANTM, MDKA Top Losers LQ45

Menarik Dibaca: Apa yang Terjadi pada Tubuh Jika Minum Susu Kedelai secara Rutin?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Check Also

Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

Salah satu kebiasaan finansial yang penting adalah memiliki anggaran bulanan yang jelas dan terencana. Dengan memiliki anggaran, kita dapat mengontrol pengeluaran dan memastikan bahwa kita tidak menghabiskan uang lebih dari yang seharusnya. Selain itu, menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan menabung, kita dapat memiliki cadangan dana darurat untuk menghadapi situasi tak terduga. Selain itu, membiasakan diri untuk berinvestasi juga merupakan langkah penting dalam menjaga keuangan agar lebih aman. Dengan berinvestasi, kita dapat meningkatkan nilai aset dan menciptakan sumber pendapatan pasif. Selain itu, menjaga kesehatan finansial juga termasuk dalam kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Hal ini meliputi pembayaran tagihan tepat waktu, menghindari utang yang tidak perlu, serta mempertimbangkan risiko finansial sebelum membuat keputusan besar. Terakhir, selalu melakukan evaluasi terhadap kondisi finansial secara berkala juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan melakukan evaluasi secara rutin, kita dapat mengetahui apakah ada perubahan dalam kondisi finansial dan membuat penyesuaian jika diperlukan. Dengan menerapkan kelima kebiasaan ini secara konsisten, diharapkan kita dapat menjaga stabilitas dan keselamatan keuangan di masa depan

%site% | NEWS